|
Matraman (STMIK-MJ): Peringkat negara berdasar tingkat penganggurannya, Indonesia ada di rangking ke 133 dengan tingkat pengguran sekitar 12.50 persen dari perkiraan pada tahun 2006. Informasi per Februari 2009 dari Badan Pusat Statistik menyebutkan angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008 mencapai 9,39 juta jiwa atau 8,39 persen dari total angkatan kerja. Angka pengangguran turun dibandingkan posisi Februari 2008 sebesar 9,43 juta jiwa (8,46 persen).
Sementara jumlah penganggur terbuka untuk di wilayah Jakarta sampai Agustus 2008 bertambah 28.130 orang dibandingkan dengan Agustus 2007, yakni 580.510 orang. Pertambahan jumlah penganggur itu terkait bertambahnya jumlah angkatan kerja dan minimnya lapangan kerja.
Menurut Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, jumlah angkatan kerja baru di Jakarta bertambah 377.150 orang atau dari 4,4 juta orang pada 2007 menjadi 4,77 juta orang pada periode sama 2008.
Di sisi lain lesunya industri terhadap order produk seperti garmen di Indonesia telah mampu menggoyang industri tersebut. Sampai November 2008, order garmen berkurang 20–30%, sedangkan kain rajutan 10–15%. Pihak industri menyatakan jika order terus menurun, memasuki 2009 jumlah pekerja yang mengalami PHK diprediksi akan mencapai 10% dari total pekerja saat ini yang mencapai 100 juta orang lebih. Artinya, 10 juta pekerja akan terkena PHK selama 2009.
Parahnya, badai PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) ini akan merata terjadi di 33 provinsi di negeri ini. Dari pantauan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) di 33 provinsi, selama November 2008 saja, sebanyak 20.000 pekerja terancam PHK dan 18.000 lainnya terancam dirumahkan. Kondisi ini terjadi pada sektor pertambangan, perkebunan dan garmen yang mengalami kelesuan produksi.
Akibatnya, angka kemiskinan Indonesia tahun 2008 meningkat dari 37,17 juta menjadi 41,7 juta. Kasus orang stres hingga bunuh diri juga meningkat.
Tim L2E–LIPI memprediksi, jumlah pengangguran baru (di luar jumlah pengangguran yang sudah ada) hingga akhir 2008 mencapai 9,7 juta jiwa atau 8,6% dari total penduduk Indonesia. Angka ini meningkat dari kondisi bulan Februari 2008 yang hanya 8,43%. Jika, PHK karena dampak krisis diperhitungkan, jumlah angka pengangguran pasti berkali lipat. Bahkan, sejak sebelum krisis Bank Dunia mencatat, jumlah rakyat miskin Indonesia mencapai 132 juta penduduk (60%).
Fahmi Idris dalam suatu kesempatan menyatakan bahawa ketidakseimbangan yang besar antara permintaan dan ketersediaan tenaga kerja menjadi biang kerok permasalahan pengguran ini.
Sementara dari laporan International Labour Organization pada Februari 2009 menyebutkan pengangguran di Indonesia bisa bertambah hingga 170 ribu orang.
Data ILO menunjukkan 15 ribu pekerja sektor ekspor tidak bekerja di Jawa Barat. Sebanyak 14 ribu buruh tekstil menganggur. Dalam waktu dekat, sekitar 35 ribu buruh sektor furnitur dan kerajinan tangan kehilangan pekerjaan.
Sehingga ekonom ILO, Marcus Powell mengatakan pemerintah harus bertindak. Dampak krisis ekonomi Indonesia tidak separah yang dialami negara lain. Tapi Indonesia juga harus tetap gencar menarik investor. Ini terutama investor yang dapat memperkuat pasar dalam negeri.
Selain itu, disebabkan juga oleh krisis moneter yang melanda Indonesia sejak 1997. Bursa kerja yang selama ini dijadikan alternatif pemecahan juga tidak efektif. "Situasi ekonomi yang lesu ini salah satu mengakibatkan terjadi bearnya angka pengangguran terdidik," kata Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Muhammadiyah Jakarta (STMIK-MJ) Dr. HM. Givi Efgivia MKom.
Disisi lain salah satu untuk mengatasi meningkatnya angka pengangguran diperlukan angka pertumbuhan ekonomi sebesar minimal 7 persen pertahun. Sayangnya pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun belakangan ini masih berkisar 4 sampai 5 persen.
Givi mengatakan, oleh karena itu peran perguruan tinggi mestinya dapat melaukan inovasi-inovasi agar para mahasiswa dan lulusannya dapat diberdayakan. Selain untuk menambah pengalamannya, mereka sejak di bangku kuliah sudah memahami etos kerja yang baik dan displin.
"Kebetulan di STMIK-MJ telah menerapkan jaminan mutu bagi kinerja karyawan kami. Hal ini akan berdampak dan menularkan hal yang positif bagi mahasiswa kami, terutama dalam hal etos kerja yang baik sesuai dengan standar ISO yang diharapkan," katanya.
Givi mengatakan perguruan tinggi memberikan pengarus yang besar terhadap kualitas lulusannya. Pasalnya sejak dibangku kuliah para mahasiswa setidaknya mampu berpikir konstruktif, kreatif dan inovatif.
"Proses pembentukan manusia unggul itu dapat dimulai dari mana saja. Dan lewat kampuslah mereka dapat leluasa mengambil paradigma itu. Sayangnya tidak setiap mahasiswa Indonesia memiliki paradigma seperti itu," katanya.
Givi mengatakan dengan bekal dan pemberdayaan mahasiswa yang komprehensif akan melahirkan bibit unggul mahasiswa. "Sasaran mutu ISO yang kami terapkan adalah setiap lulusan punya garansi 12 bulan supaya mereka memperoleh pekerjaan," katanya.
Saat ini STMIK-MJ telah meluluskan 800 mahasiswanya, dan sekitar 70 persen telah terserap di bidang teknologi informasi. Selain itu STMIK-MJ memiliki peran strategis dalam memajukan memperbaharui pendidikan dan memperluas Iptek sesuai dengan tuntunan Islam.[*/berbagai sumber]
|